Pages - Menu

Jelajah Ilmu dan Alam Karena hidup adalah petualangan dan pembelajaran

Selasa, 22 Maret 2016

Revolusi Angkutan Berbasis IT Part 2 (pembanding)

http://cdn.i.haymarketmedia.asia/?n=autocar-indonesia%2Fcontent%2F20151021101841-taksi+grabcar+lamborghini+(5).JPG



Saya dari awal termasuk yg antipati dgn taksi dan ojek online ini. Tapi penolakan saya bukan karena mereka menggunakan teknologi. Bukan pula karena masalah mereka menyalahi perijinan, KIR, dsb. Penolakan saya karena ada sesuatu yg UNNATURAL dalam praktik bisnis taksi/ojek online ini. Sesuatu yg UNNATURAL ini merupakan bom waktu yg cepat atau lambat akan MELEDAK.

Sayangnya, para stakeholder bisa dibilang gagal melihat sesuatu yg UNNATURAL ini. Ada yg melihatnya dari sudut pandang APLIKASI. Ada yg dari sudut pandang PERIJINAN. Ada juga yg dari sudut pandang REGULASI.

BUKAN ITU inti masalah ojek online ini.

Kalo soal aplikasi, maka taksi/ojek konvensional bisa juga pake aplikasi. Bahkan Bluebird dan Ekspress juga sudah menggunakan aplikasi. Tapi mengapa bom waktu ini tidak bisa di-nonaktifkan?

Kalo soal perijinan, maka andai taksi/ojek online clear urusan perijinannya, bom waktu ini akan tetap aktif.

Kalo soal regulasi, maka andai regulasi sudah mengakomodir taksi/ojek online, bom waktu ini akan tetap aktif.

Masalahnya BUKAN ITU.

Masalahnya adalah pada HARGA YG UNNATURAL.

Biar gampang melihatnya, saya ibaratkan dengan pedagang bakso. Modal yg dibutuhkan utk 1 porsi bakso misalnya Rp.8000.
Biar dapat untung, dan pasti tukang bakso mau untung, karena tidak ada yg namanya dagang tapi tidak nyari untung, maka 1 porsi bakso dijual Rp.11.000. Ini NATURAL. Sesuai dgn hukum alam. Sesuai dgn prinsip ekonomi.

Tapi bagaimana jika tiba2 saya ikutan jual bakso tapi pakai aplikasi, dgn modal yg sama per porsi, tapi bakso saya jual Rp 4.000? Inilah yg saya sebut UNNATURAL. Tidak wajar!

Konsumen pasti dukung saya, karena harga saya murah banget. Konsumen pasti berpihak pada saya. Dan jika ada pedagang bakso lain protes, konsumen pasti akan mencibir pedagang bakso lainnya tadi. Saya dianggap jenius bisa memberikan harga murah bagi konsumen.

Tapi konsumen tidak salah. Sikap konsumen yg demikian masih NATURAL. Emang begitu hukum ekonomi.

Nah, pertanyaannya bagaimana caranya agar pedagang bakso saingan saya tetap bisa dapat untung, atau minimal tetap dapat pembeli? Apakah mereka harus pake aplikasi juga? Bisa saja mereka pakai aplikasi. Tapi mereka tidak mungkin jual dgn harga yg sama dgn saya (Rp. 4rb). Bukan itu solusinya.

Inilah masalah sebenarnya dari taksi/ojek online. Bukan soal aplikasi, bukan soal regulasi, dan bukan juga soal perijinan. Tapi soal harga yg tidak wajar. Harga ditetapkan di bawah cost produksi.

Sebenarnya pertanyaan berikutnya yg harus kita ajukan agar kita bisa mengidentifikasi apa penyebab sebenarnya dari sesuatu yg UNNATURAL ini adalah mengapa ada usaha yg bisa eksis dgn price di bawah cost? Bahkan salah satu ojek online pernah secara terang2an mengakui bahwa mereka masih merugi milyaran rupiah per bulannya. Dan itu pengakuan mereka tahun lalu. Sampai sekarang mereka tetap pasang tarif murah. Artinya, kemungkinan besar mereka pun masih merugi milyaran rupiah. Apakah ini NATURAL?

Wajar saja mereka bisa mengakuisisi pangsa pasar taksi/ojek tradisional, karena mereka tidak ambil pusing soal untung rugi! Beda dengan taksi/ojek konvensional yg tujuannya memang cari untung. Dan dari margin keuntungan itulah mereka dapat memberi makan keluarga mereka.

Pertanyaan berikutnya, darimana mereka mendapatkan dana untuk membiayai kerugian yg milyaran per bulan itu? Ternyata itu bukan dana mereka sendiri. Tapi katanya dari investor. Nah, yg namanya investor pasti motivasinya juga cari untung. Mana ada investor mau rugi. Kalo ada maka itu UNNATURAL.

Ada yg beralasan dgn mengatakan, itu ruginya di awal saja. Nanti setelah tahun ke sekian baru lah ada profitnya dan itu bisa saja terjadi setelah perusahaan merubah strategi usahanya. Dan ini wajar2 saja untuk bisnis2 yg baru mulai.

Betul. Bisnis yg baru mulai umumnya merugi dulu di awal. Tapi apakah benar pada tahun kesekian usaha2 UNNATURAL tsb akan merubah strateginya? Selain itu apakah sudah pasti akan untung setelah rubah strategi itu? Apalagi jika yg dimaksud strategi itu adalah bersaing dgn harga pasar. (Misal bakso dijual juga dgn harga 11rb?) Belum tentu.

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/679439/big/Tokobagus+evolusi.jpg
Saya ambil contoh misalnya T*k*b*g*s. Situs iklan baris GRATIS. Didirikan tahun 2005. Tahun 2009 dibeli oleh 0L*. Dari 2005 hingga 2009 pasang iklan di t*k*b*g*s tetap gratis. Bahkan setelah dibeli oleh 0L* sampai sekarang juga tetap GRATIS.

Di awal kemunculannya banyak orang bertanya2 darimana t*k*b*g*s dapat untung. Pasang iklan tidak dipungut bayaran (walaupun ada fitur iklan premium, tapi persentase penggunanya sangat kecil). Tapi t*k*b*g*s bisa beriklan jor-joran di tv yg biayanya bisa puluhan juta per 30 detik. Darimana mereka dapat untung?

Ada yg menjawab, mereka hanya di awal saja gratis. Nanti setelah 2-3 tahun, ketika t*k*b*g*s makin dikenal, maka mereka akan ganti startegi dgn menjadi situs iklan baris berbayar.

Tapi kenyataannya, sampai sekarang, 2016, beriklan di t*k*b*g*s (yg sekarang sudah jadi 0L*) tetap gratis.
Ada lagi yg beralasan bahwa bisnis utama dari t*k*b*g*s itu bukan advertising agency. Tapi data gathering. Yg kemudian dimonitasi (monetizing/mendatangkan uang). Lalu diambillah contoh google/FB yg menyediakan berbagai layanan gratis. Dari layanan gratis tsb google/FB dapat data user berupa profil, hobi, dsb. Google/FB kemudian menampilkan iklan berdasarkan data user tsb. Pemasang iklan bayar ke google/FB. Dari sinilah google/FB dapat uang (monetizing).

Ini perumpamaan yg terlalu dipaksakan. Padahal jelas beda. Google/FB bisnis utama mereka memang advertising. Lalu mereka menyusun strategi utk bagaimana bisa menyediakan advertising service yg efektif. Masuklah mereka ke strategi data gathering.
Pasang iklan di google/fb tidak pernah GRATIS. Dari awal hingga sekarang. Karena dari situlah mereka dapat pemasukan. Satu2nya cara monetizing situs adalah dgn menyediakan space iklan berbayar.

T*k*b*g*s tidak begitu. Mereka justru menggratiskan space iklannya. Padahal monetasi situs justru dgn menyediakan space iklan berbayar. Dan buktinya sampai sekarang t*k*b*g*s tetap gratis. Lalu darimana mereka dapat uangnya? Kalo google dan fb jelas dari iklan berbayar.
Kembali lagi ke soal investor. Mengapa ternyata tetap ada INVESTOR yg bersedia membiayai padahal jelas tidak ada untungnya?
Ini UNNATURAL.

Apa yg dilakukan oleh taksi dan ojek online SAMA sebenarnya dgn apa yg dilakukan oleh t*k*b*g*s, b*rn**ga, dan sejenisnya.

Bedanya, taksi/ojek online mencoba menerapkan strategi "bisnis" (sengaja saya kasih tanda kutip karena ini bukan arti sebenarnya) yg awalnya hanya ada di dunia maya ke bisnis riil di dunia nyata. Bedanya, jenis usaha yg dipilih oleh taksi/ojek online bersinggungan langsung dengan periuk nasi pelaku usaha yg sudah lama eksis di dunia nyata tsb. Sehingha terjadilah konflik sosial.

Nah, sebenarnya "bisnis" apa sih dibalik taksi/ojek online ini, yg tadi saya juga sebutkan sudah lama ada di dunia maya?
Inilah "bisnis" nya:

Saya terjun ke usaha BAKSO BERBASIS APLIKASI. Harga bakso per porsi saya tetapkan Rp 4000. Cost produksi Rp. 8000.
Saya tidak mau rugi. Saya bikin usaha tujuannya nyari untung. Bagaimana caranya saya bisa untung dgn jualan bakso si bawah harga produksi?

Caranya:

Tahun pertama
Saya butuh modal 1 milyar. Saya cari investor yg mau invest 1 M. Sebagaimana investor umumnya yg juga bertujuan nyari untung, maka utk menarik minat mereka saya tawarkan keuntungan 20%. Artinya, saya akan kembalikan uang investor pada akhir tahun sebesar 1,2 M.
Investor dapat.
Dari 1 M, 200jt masuk kantong saya pribadi, sisanya 100jt utk modal bakso. 700 jt sisanya utk pasang iklan secara masif di tv.

Tahun kedua.
Saya punya kewajiban mengembalikan 1,2 M ke investor tahun pertama.
Darimana saya dapat uangnya, sementara bisnis bakso saya tidak mendatangkan untung? Ingat, saya jual bakso jauh di bawah harga produksi.
Caranya. Saya cari lagi investor yg mau invest 2 M. Saja janjikan keuntungan 20%. Artinya di akhir tahun kedua saya akan kembalikan 2,4 M.
Investor dapat.
Dari 2 M:
1,2 utk mengembalikan uang investor tahun pertama.
200 jt masuk kantong pribadi
100 jt utk modal bakso
500 jt utk jor2an pasang iklan lagi di tv.

Tahun ketiga, keempat dan kelima saya ulang2 lagi caranya.

Pada tahun ke 6, saya jual usaha saya seharga 100 M ke perusahaan internasional.
Atau jika saya tidak jual, saya masuk ke bursa saham, melakukan IPO. Karena usaha saya sudah banyak dikenal, maka tidak susah bagi saya menjual saham saya. Bahkan bisa jadi dalam waktu singkat harga saham perdana saya bisa berlipat ganda. Apalagi jika ada yg menggoreng saham saya.

Dari situlah saya dapat untung besar. Jadi bukan dari jualan bakso!
Soal banyak pedagang bakso gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan usaha saya, itu bukan urusan saya! Hahahaha
Mungkin ada yg tanya? Kok ada investor yg mau invest padahal pasti sebelumnya mereka mempelajari detail proposal bisnis saya dan pasti mereka tahu saya jualan di bawah cost produksi?

Jawabnya:
1. Saya berhasil meyakinkan mereka bahwa setelah beberapa bulan saya akan ganti strategi sehingga usaha saya akan mendatangkan untung berlipat. Investor tahun pertama akan lebih susah diyakinkan daripada investor tahun berikutnya. Tapi investor tahun berikutnya akan lebih mudah diyakinkan dengan adanya testimoni dari investor tahun2 sebelumnya.
Atau...
2. Mereka adalah investor "hitam" yg butuh tempat money laundering. Apa artinya membuang uang 1 M jika bisa memutihkan uang 10 M dalam bentuk "profit" rekayasa dari jualan bakso. Apalagi jika bisa IPO.
Inilah hakikat "bisnis" saya.
------
Disclaimer:
- Tulisan saya bukan bertujuan mengajarkan model "bisnis" di atas. Saya tidak bertanggung jawab jika ada yg terinspirasi utk menjalankan model "bisnis" di atas beserta segala kerugian yg akan dialami oleh siapapun.
- Saya pribadi mengecam model "bisnis" seperti ini dan menganggapnya sebagai money game dan fraud.
- Jika ada kesamaan nama dan pelaku dalam tulisan ini dgn nama dan pelaku di dunia nyata, maka itu adalah kebetu

Revolusi Angkutan Berbasis IT Part 1

http://news.hargatop.com/wp-content/uploads/2016/03/Demo-Taxi-Di-Gatsu-696x400.jpg



Opini by: Rhenald Kasali - Rumah Perubahan

Senin (14/3) lalu kawasan Balai Kota DKI Jakarta, Istana Negara, dan kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika diserbu ribuan pengemudi taksi.

Mereka berdemo menolak kehadiran taksi yang berbasis aplikasi online. Anda pasti bisa dengan mudah menerka penyebabnya. Iya, penghasilan mereka terpangkas akibat hadirnya taksi berbasis aplikasi. Bahkan sebetulnya bukan hanya taksi itu yang membuat penumpang berpindah. Ojek online merebut sebagian pasar taksi konvensional.

Mereka mengeluh, utang setoran ke perusahaan terus bertambah. Padahal, uang yang dibawa pulang untuk makan anak-istri makin turun. Kita tentu prihatin dengan kenyataan tersebut. Apalagi jumlah pengemudi angkutan umum ini tidak sedikit. Seluruhnya bisa mencapai 170.000-an. Sampai di sini Anda mungkin bergumam: mengapa mereka tidak berubah saja? Ke mana para eksekutifnya? Mengapa mereka membiarkan pasarnya digerus para pelaku bisnis online tanpa berupaya melakukan perubahan internal? Tentu semua ini tak akan mudah.

Sampai di sini adagium perubahan kembali berbunyi: kalau rasa sakit manusia itu belum melebihi rasa takutnya, rasanya belum tentu mereka mau berubah. Maaf, pesan ini berlaku buat kita semua, baik yang sedang duka maupun yang masih gembira. Tapi, supaya fair, kita juga mesti melihatnya dari sisi yang lain, yakni pengemudi taksi berbasis aplikasi dan ojek online .

Mereka juga tengah mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan anak istrinya. Lalu, pelanggannya juga senang memakai taksi berbasis aplikasi karena serasa naik mobil pribadi dan tarifnya pun murah. Begitu selesai langsung turun. Praktis. Tak pakai bayar-bayaran tunai. Bisnis taksi berbasis aplikasi ini juga punya pesaing. Anda bisa klik www.nebeng.com. Iniaplikasi yang juga mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan mereka yang membutuhkan angkutan ke arah yang sama.

Tarifnya tak kalah bersaing. Misalnya tarif dari Perumahan Vila Nusa Indah di Bekasi ke Jakarta hanya Rp15.000 sekali jalan. Murah! Para pemilik kendaraan yang rela “ditebengi” ini juga ikut andil dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. Ketimbang setiap orang naik mobil pribadi, lebih satu mobil dipakai bersama-sama dengan cara nebeng. Jumlah mobil yang masuk ke Jakarta jadi lebih sedikit.

http://www.jawapos.com/imgs/2015/12/12303_30056_gojek%20besar.jpg

Pertarungan Business Model

Tapi, mari kita bahas soal perseteruan taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi. Hadirnya taksi berbasis aplikasi, menurut saya, adalah penanda datangnya era crowd business. Apa itu crowd business? Sederhana. Ini bisnis yang kalau Anda mencoba mencari polanya bakal pusing sendiri. Sebab serba tidak jelas. Misalnya, tidak jelas batasan antara produsen dan konsumen. Juga, tidak jelas kreditor dengan debitor.

Siapapun bisa menjadi pemasok Anda, tetapi sekaligus menjadi konsumen Anda. Crowd business kian kencang berputar akibat kemajuan teknologi informasi— yang terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar.

Kalau setuju, baru kita membayar. Kini tidak perlu lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya, mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam perseteruan antara bisnis taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi.

Di bisnis taksi konvensional, kita bukan hanya harus membayar jasa angkutannya, tetapi secara tidak langsung juga mesti menanggung biaya kredit mobilnya, gaji pegawai perusahaan taksinya, biaya listrik dan AC, dan sebagainya. Di bisnis taksi berbasis aplikasi, kita tidak ikut menanggung biaya-biaya tersebut. Jadi, tak mengherankan kalau tarifnya bisa lebih murah. Kolega saya pernah membandingkan.

Untuk rute Cakung ke Halim Perdanakusuma yang samasama di Jakarta Timur, dengan taksi konvensional tarifnya Rp105.000, sementara dengan taksi berbasis aplikasi hanya Rp55.000. Ini jelas pilihan yang mudah buat calon konsumen. Switching cost dalam industri ini amat rendah. Maka terjadilah downshifting. Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal ketimbang yang lain? Ini adalah persoalan model bisnis.

Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan low cost carrier (LCC). LCC mendesain model bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya, sehingga tarifnya menjadi lebih murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah yang membuat bisnis taksi era lama bakal segera usang.

Pesaingnya bukan sesama bisnis taksi, melainkan para pembuat aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen yang membutuhkan jasa angkutan. Selamat datang di peradaban sharing economy. Efisiensi menjadi kenyataan karena kita saling mendayagunakan segala kepemilikan yang tadinya idle dari owning economy.

http://www.rmoljakarta.com/images/berita/normal/321211_05303125072015_salaman.jpg

Berdamai, bukan Menentang

Kasus serupa bisnis taksi bakal kita jumpai dalam bisnis-bisnis yang lain. Di luar negeri, pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funding. Anda bisa cek ini di www. l e n d i n g c l u b . com. Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat.

Bedanya, proses mendapatkan kreditnya jauh lebih simpel ketimbang perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah. Di Indonesia, bisnis ala lending club sudah ada. Anda bisa cek website-nya di www.gandengtangan.org. Memang untuk sementara bisnis yang didanai masih untuk usaha skala UMKM dan social enterprise. Tapi, siapa tahu ke depannya bakal melebar ke mana-mana Di luar negeri, ada www.airbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya dengan orang-orang yang mencari penginapan.

Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel. Lalu, ada juga aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen angkutan darat. Namanya Lyft. Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi tersaingi. Begitulah, kita tak bisa membendung teknologi. Ia akan hadir untuk menghancurkan bisnis bisnis yang sudah mapan—yang tak bisa beradaptasi dengan perubahan.

Persis kata Charles Darwin, "bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan". Maka, kita harus berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya? Di luar negeri, para pengelola chain hotel berdamai dengan kompetitornya, para pemilik rumah yang siap disewakan melalui jasa www.airbnb.com . Caranya, mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut sehingga ruangan dan layanannya memiliki standar ala hotel.

Belum lama ini saya menikmatinya di sebuah desa di Spanyol Selatan, dan saya puas. Kasus serupa menimpa Lego, perusahaan mainan anak, yang terancam bangkrut pada awal 1990-an. Hadirnya video games membuat anak-anak kita tak berminat lagi dengan batu bata mainan buatan Lego. Namun, perusahaan itu mampu bangkit lagi dengan mengandalkan inovasi dari orangorang di luar perusahaan, atau crowd sourcing.

Mereka semua belajar dari model bisnis Kick Starter yang fenomenal. Lego tak melawan perubahan, tetapi berdamai. Saya tidak punya resep khusus bagaimana caranya setiap perusahaan mesti menghadapi perubahan. Intinya jangan menentang. Berdamailah dengan perubahan.

Demikian juga pesan saya kepada bapak Presiden, Menteri Perhubungan, Gubernur DKI, dan Menteri Kominfo. Kita butuh cara baru yang berdamaidenganperubahan. Maka, kita semua akan selamat.
Rhenald Khasali.

Senin, 21 Maret 2016

Who Am I ?



Rifyal Fauzan adalah seorang putra keturunan Minangkabau yang dilahirkan di Jakarta, pada 26 September 1991. Ia menamatkan pendidikan SD tahun 2003 di SDN Rorotan 03 Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Ponpes Modern Husnul Khotimah-Kuningan Jawa Barat (2003-2006). Lalu ia melanjutkan pendidikan di SMAN 52 Jakarta, mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Bahasa dan lulus pada tahun 2009. Selepas lulus SMA ia tidak segera melanjutkan kuliah. Satu tahun ia habiskan mengikuti bimbingan belajar serta bergabung dalam komunitas Forum Lingkar Pena dan Parkour Jakarta. Pada tahun 2010 ia melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri di Surabaya yaitu Universitas Negeri Surabaya (UNESA) jurusan Pendidikan Olahraga dan tamat sebagai lulusan terbaik di jurusannya dengan predikat Cumlaude pada tahun 2014. Selepas wisuda, ia mendapat panggilan kerja di Celebrity Fitness Surabaya dan bekerja selama 1 tahun sebagai pelatih kebugaran (personal trainee) disana. Ia memiliki hobi di bidang olahraga, terutama dalam hal kebugaran dan nutrisi kesehatan, hobi tersebut pernah membawanya aktif di beberapa komunitas olahraga seperti Softball, Parkour, Calisthenics, dan Body building. Ia juga memiliki pengalaman kerja sebagai pelatih renang pada tahun 2011 dan pelatih gymnastic kindergarten pada tahun 2013. Penulis juga memiliki ketertarikan di bidang jurnalistik. Ia sempat mengikuti beberapa pelatihan jurnalistik dan magang di Radio Dakta - Bekasi. Ia juga pernah tergabung dalam komunitas forum lingkar pena jakarta pada 2008-2009 dan juga aktif sebagai wartawan tabloid Gema (tabloid kampus) sebagai wartawan sekaligus redaktur pada tahun 2011-2013.Saat ini ia sedang melanjutkan studi S2 di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia yang berlokasi di Sentul City Bogor - Jawa Barat.

Minggu, 20 Maret 2016

How Rich Countries Got Rich & Why Poor Countries Stay Poor


Jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul buku Erik Reinert ini, How Rich Countries Got Rich…and Why Poor Countries Stay Poor bisa diringkas demikian: karena negara-negara kaya sekarang melarang negara-negara miskin dan berkembang mengambil langkah-langkah yang sebenarnya dulu mereka ambil agar bisa jadi kaya, yakni: membentuk dan memproteksi industri dalam negerinya sampai kuat sebelum terjun ke dalam perdagangan internasional.

Kesadaran akan hal ini tidaklah baru tentunya, dan sudah banyak disuarakan baik oleh kaum akademisi maupun aktivis. Namun buku Erik Reinert ini memberi sumbangsih maha penting bagi argumentasi ini dengan kelengkapan data sejarahnya. Reinert membongkar (mengobrak-abrik, tepatnya) sejarah ilmu ekonomi untuk menemukan literatur-literatur yang kini diabaikan oleh ekonom mainstream, namun yang pada zamannya justru banyak dibaca dan menjadi bahan rujukan kebijakan publik yang membuat negara-negara kaya itu bisa menjadi kaya.

Deretan literatur ekonomi heterodoks ini disebutnya sebagai “the other canon”, dan Reinert —bersama ekonom-ekonom kritis sejenis macam Ha Joon Chang dan Carlota Perez—aktif di Yayasan The Other Canon, Norwegia, untuk mengembangkan pendekatan yang disebutnya sebagai “reality-based economics” atau “experience-based economics” ini.

Dengan pendekatan ini, Reinert mengkaji kebijakan riil apa yang sesungguhnya diambil oleh negara-negara maju dalam proses perkembangannya, dan bukan apa yang ditulis dalam sejarah ilmu ekonomi mainstream sekarang. Misalnya, perdagangan bebas digembar-gemborkan sebagai jalan menuju kemakmuran, sebagaimana anjuran Adam Smith agar Inggris membuka arus dagangnya dalam Wealth of Nations, namun Reinert menemukan bahwa kenyataannya Inggris justru menerapkan cukai yang jauh lebih banyak dibanding Perancis sepanjang 100 tahun sejak buku Smith itu terbit, dan itu jelas-jelas bukan ciri perdagangan bebas. Sepanjang sejarah negara-negara kaya, bukan perdagangan yang menjadi sumber penghasil kekayaan sebagaimana yang sering dibilang itu, melainkan produksi/industri dalam negeri yang kuat.

Ini terbukti saat Smith di buku itu juga menasehatkan bahwa AS —yang merdeka persis pada tahun terbitnya Wealth of Nations—akan menderita kesalahan mematikan bila memproteksi industri manufakturnya. Namun tulisan Smith ini harus dipandang tidak bebas-nilai, ia tak lepas dari kepentingan Inggris yang bermaksud terus menjadikan AS sebagai koloni. Untungnya Alexander Hamilton, Menteri Keuangan AS pertama, jeli membaca Smith, yang secara kontradiktif menulis pada buku yang sama namun pada bab yang berbeda bahwa hanya negara-negara dengan industri manufaktur dalam negeri yang kuatlah yang bisa memenangkan perang. Hamilton mendasarkan kebijakan ekonomi AS dengan meniru (emulate) apa yang secara riil dilakukan Inggris dan bukan apa yang diteorikan oleh Adam Smith. Emulasi, bagi Reinert, adalah kunci kemajuan negara-negara besar. AS pun memproteksi industri dalam negerinya selama 1,5 abad. Baru setelah industri dalam negeri itu kuat AS terjun dalam perdagangan dunia sebagai pemain, bukan kuli.

Sayangnya, menurut Reinert, pasca Perang Dunia II pendekatan “experience-based economics” ini sirna dan digantikan oleh pendekatan abstrak yang merupakan turunan dari pendekatan ilmu ekonomi David Ricardo. Apalagi setelah Alfred Marshall memperkenalkan pemakaian teknik-teknik matematis dalam perhitungan ekonomi, ilmu ekonomi pun berubah seolah-olah menjadi ilmu pasti (hard science)dan melupakan aneka ragam segi-segi kualitatif ketika ia masih bernama “ekonomi-politik”. Political-economy beralih menjadi economics.

Menarik bahwa bagi Reinert, debat besar pasca Perang Dunia II antara retorika pasar bebas ala kapitalisme dengan ekonomi terpimpin ala komunisme sesungguhnya hanyalah turunan yang sama dari ekonomi David Ricardo. Mengapa komunisme ia samakan dengan kapitalisme dalam hal ini? Tradisi ilmu sosial Jerman pra-Marx lebih memandang pengetahuan, ide baru, dan teknologi sebagai faktor-faktor penggerak perekonomian. Namun ketika dampak-dampak sosial kapitalisme tak terjelaskan oleh cara pandang ini, Marx mengambil teori nilai kerja David Ricardo yang sangat abstrak untuk membangun teorinya sendiri. Bagi Reinert, pilihan Marx ini punya konsekuensi panjang: “his choice had very serious long-term consequences, allowing Ricardo’s abstract thinking to rule along the whole political axis from left to right during the Cold War period and beyond.” (hlm. 41).[1]

Seiring dengan sirnanya “experience-based economics”, sirna pulalah penekanan pada sisi produksi sebagai faktor sentral penghasil kemakmuran suatu negara. Penekanan beralih pada sisi perdagangan. Kedua hal ini berhubungan erat. Kian abstraknya ilmu ekonomi mensyaratkan kian banyaknya faktor-faktor kualitatif yang harus dibuang dalam perhitungan, demi mencapai sebuah model matematis yang terukur. Dengan demikian, dunia diasumsikan steril dari faktor-faktor “lokal”, “kontekstual”, dan kesejarahan. Keragaman kultur, gesekan kepentingan, friksi dan konflik dianggap tiada. Model matematis macam ini akhirnya memang membuka jalan bagi menguatnya doktrin perdagangan bebas, di mana dunia dianggap sama rata dan pasti akan jadi sama-sama lebih kaya bila perdagangan dibuka seluas-luasnya. Doktrin ini, seperti pendekatan yang melahirkannya, mengabaikan faktor-faktor macam ketimpangan yang telah terlebih dahulu ada akibat imperialisme kolonialisme serta keragaman sejarah tiap-tiap negara. Dengan inilah Paul Samuelson membuktikan secara matematis bahwa perdagangan internasional yang tanpa batasan akan menghasilkan “factor-price equalization”, artinya: harga yang dibayarkan untuk faktor-faktor produksi akan cenderung jadi sama di seluruh dunia. Bagi Reinert, pendekatan Samuelson inilah sumber munculnya absurditas globalisasi yang digencarkan oleh kebijakan Washington Consensus serta badan-badan macam IMF dan Bank Dunia sekarang ini.

Konsep macam comparative advantages misalnya, bisa absurd kalau hanya dilihat dalam hitung-hitungan di atas kertas. Problem murahnya gaji buruh serta rendahnya standar hidup di Indonesia misalnya, akan dianggap sebagai keunggulan komparatif kita dalam perdagangan dunia —dan bukan sebagai masalah sosial yang harus dipecahkan—bila hanya dihitung secara matematis. Ini melupakan bukti sejarah riil bahwa Ford justru melipatgandakan upah buruhnya sejak 1914 agar industri mobilnya bisa meraksasa (hlm. 103).
Sebagai ekonom yang banyak memberi masukan pada pemerintah negara-negara berkembang, Reinert mengalami langsung absurdnya situasi kontemporer ini. Pada Maret 2000, Reinert menghadiri konferensi ekonomi yang diselenggarakan parlemen Mongolia tentang arah perekonomian negeri itu. Keadaan sedang suram. Sejak terintegrasi ke perekonomian global, pelbagai macam perindustrian lokal negeri itu justru lenyap. Produksi roti turun 71% dan produksi buku serta majalah turun 79%, upah riil terpangkas separuh dan suku bunga meroket menjadi 35%. Sebanyak 2-3 juta hewan ternak mati atau sekarat akibat kurangnya rumput. Media massa melihatnya sebagai fenomena global warming, namun Reinert melihatnya sebagai fenomena integrasi paksa global economy: diminishing returns to scale on land resources. Mongolia ditarik paksa ke dalam perekonomian global dengan harapan bisa menemukan tempatnya sesuai “keunggulan komparatif”-nya, dan hasilnya justru primitivisasi: negeri itu terdorong balik dari zaman industri menuju zaman pastoral.

Di tengah konferensi tersebut, perwakilan Bank Dunia menyajikan tiga skenario mujizat: Mongolia bisa tumbuh 3, 5, atau 7% setahun, tanpa menjelaskan bagaimana kemerosotan perekonomian ini bisa distop terlebih dahulu. Begitu juga dengan perwakilan USAID yang mengeluhkan kurangnya kultur kewirausahaan dalam masyarakat Mongol, tanpa menjelaskan bagaimana bisa wirausahawan bekerja dengan suku bunga setinggi 35%? (yang kita tahu tentunya dipatok demi menyelamatkan sektor finansial dengan mengorbankan sektor riil).

Situasi jadi semakin absurd saat Jeffrey Sachs, ekonom yang juga harus memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi pada rakyat Mongolia, menulis dalam The Economist bahwa Mongolia harusnya berspesialisasi menghasilkan software komputer. Bagi Reinert, “usulan brilian” Sachs inilah bukti telak bahwa ekonomi telah terpisah jauh dari realitas: “Only in that strange world of economic textbooks can nomadic yak-herders without telephones and electricity suddenly compete with and supply Silicon Valley.” (hlm. 177). Sachs mengabaikan sama sekali kenyataan bahwa hanya 4% warga Mongol di luar ibukota yang punya sambungan listrik.

Kecaman Reinert atas ekonom-ekonom macam Sachs tak berhenti sampai situ. Bagi Reinert, tidak mengherankan bila kini Sachs menjadi pengusung aktif program-program PBB macam Millenium Development Goals (MDGs). MDGs hanyalah “penawar sakit” atau palliative economics belaka. Ia tidak menyembuhkan penyebab sakitnya itu sendiri (kurangnya industri lokal yang kuat di negara-negara berkembang), namun cuma meringankan dampak perdagangan bebas global (berupa bantuan keuangan bagi negara-negara miskin). Keterlibatan aktif ekonom-ekonom macam Sachs dalam MDGs dengan demikian bisa kita baca sebagai dua hal:
  1. ini adalah bukti bahwa doktrin perdagangan bebas yang mereka gencarkan dulu telah gagal membawa kemakmuran, dan malah sebaliknya semakin memiskinkan, dan kini mereka sibuk mencari penangkal dampak negatifnya; namun demikian
  2. mereka ingin terus mempertahankan sistem dunia macam ini dengan tetap tidak membolehkan negara-negara berkembang membangun industri lokalnya yang kuat, tapi berharap agar negara-negara itu survive lewat bantuan asing. Alih-alih mengembangkan pembangunan agar Afrika bisa mengenyahkan malaria (sebagaimana yang dilakukan Swiss dulu), Afrika kini malah digelontor bantuan kelambu nyamuk oleh negara-negara Barat.
Semua yang terjadi pada masa sekarang bagi Reinert bisa dicari padanannya dalam sejarah ekonomi yang telah digelapkan oleh ilmu ekonomi mainstream. Kita bisa mempelajari argumen-argumen kaum anti-Physiocrat abad ke-18 macam Voltaire (Perancis) dan Abbe Galiani (Italia) untuk menentang ekonom yang berpendapat bahwa pasar secara otomatis akan menghasilkan harmoni kehidupan. Gerakan Right to Food yang berkembang sekarang juga memiliki kesamaan dengan argumentasi Simon Linguet tahun 1774. Dan secara khusus, literatur kolonialisme dengan jelas menunjukkan apa yang terjadi dengan globalisasi kontemporer sekarang, bahwa negara-negara kolonialis sengaja membuat koloni-koloni mereka sebagai pengekspor bahan mentah belaka dengan mencegah terbentuknya industri nasional yang kuat. Lihat tulisan Joshua Gee tahun 1792 berikut: “That all Negroes shall be prohibited from weaving either Linnen or Woollen, or spinning or combing of Wooll, or working at any Manufacture of Iron: that they also be prohibited from manufacturing of Hats, Stockings, or Leather of any kind…” Ekonom Jerman Johann Heinrich Gottlob von Justi telah lama meramalkan bahwa negara-negara koloni itu suatu hari nanti akan sadar bahwa mereka telah ditipu, dan akan memberontak untuk membentuk industri nasional mereka sendiri. Ramalannya terbukti saat Amerika Serikat memerdekakan diri dari Inggris.

Buku Reinert ini —peraih Myrdal Prize 2008—memang bisa dibilang jauh berbeda dari kebanyakan buku-buku “anti-globalisasi” yang ada sekarang. Kita bisa membacanya dalam tiga tataran:
  1. kritik kebijakan
  2. sejarah ekonomi alternatif
  3. upaya peruntuhan mitos bahwa ilmu ekonomi adalah hard science
Bahkan bagi penyuka buku langka dan antik, kisah perburuan Reinert atas literatur-literatur ekonomi lawas bisa menjadi bacaan tersendiri yang mengasyikkan. Entah disengaja atau tidak, Reinert mendapati bahwa sirnanya “experience-based economics” dari ilmu ekonomi yang diajarkan di perkuliahan antara lain disebabkan oleh menghilangnya literatur-literatur tentang itu dari perpustakaan-perpustakaan kampus maupun umum. Pada 1984 Baker Library di Harvard membuang seluruh koleksi Friedrich List mereka (ekonom Jerman yang menterorikan pertama kali soal pertumbuhan tidak merata), dan Reinert mendapatkannya dari pedagang buku di Boston. New York Public Library pada pertengahan 1970an memutuskan untuk memikrofilmkan seluruh koleksi pamflet mereka dan membuang aslinya. Untungnya bahan-bahan tersebut (170 ribu pamflet) selamat di tangan seorang kolektor, dan dari pedagang buku di London, Reinert dan istrinya yang seorang pustakawati memboyong pulang sekitar 2.300 pamflet, semuanya mendokumentasikan perdebatan-perdebatan kebijakan ekonomi di Senat dan Kongres AS awal 1800an, yang bisa mengisahkan apa sesungguhnya langkah-langkah yang diambil AS dari negara koloni miskin menjadi negara kaya, yang tak pernah tercantum di buku-buku ajar ekonomi.

Upaya Reinert untuk berkaca pada sejarah ini menjadi kian terasa urgensinya bagi kita sendiri di Indonesia yang kebijakan-kebijakan ekonomi-politiknya makin lama makin terasa ahistoris. Seperti Reinert, kita perlu membuka-buka kembali perdebatan-perdebatan awal abad ke-20 untuk mengembalikan arah kebijakan ekonomi-politik kita, setidaknya pada tataran pemikiran dan teoretis untuk awalnya. Bagaimana Semaoen, misalnya, memikirkan tentang tenaga kerja dan perburuhan? Bagaimana Iwa Koesoema Soemantri mengulas tentang persoalan agraria? Bagaimana Marhaenisme dirumuskan oleh Soekarno dalam kaitannya dengan hubungan-hubungan modal dan alat-alat produksi? Bagaimana konsepsi koperasi Moh. Hatta? Bagaimana ekonomi gerilya Tan Malaka? Para founding fathers kita hendak membebaskan Indonesia bukan hanya dari penjajahan fisik, melainkan juga ekonomi. Karenanya, pemikiran-pemikiran mereka sangat perlu ditilik dan dipelajari kembali dalam konteks kemandirian ekonomi Indonesia di tengah globalisasi sekarang ini.
—————-
1. Sebagai catatan, dalam pohon ekonomi The Other Canon, perbedaan sistem perekonomian “kiri” dan “kanan” memang tidak digolongkan dalam pengertian yang kita pahami secara konvensional selama ini. Abraham Lincoln bisa dibilang kanan dan Marx kiri, namun keduanya berdiri di kubu yang sama dalam pendapatnya bahwa produksi dan industrilah yang bisa menghasilkan kemakmuran. Bukan kebetulan bahwa Marx menjadi kolumnis tetap New York Daily Tribune, organ Partai Republiknya Lincoln.